ads

kudusnet.com

Informasi Lugas dan Terpercaya

Larangan Menyembelih Sapi Sebagai Bentuk Toleransi

Kudusnet.com
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Nama Sunan Kudus di ambil dari kata “Kudus” yang memiliki makna sifat Kudus. Sunan Kudus mengajar para santri tentang ilmu rohaniah namu masih bagian luarnya saja, tidak mengajarkan secara mendalam, karena melihat tingkatan keimanan masyarakat belum begitu kuat. Sunan Kudus juga mengajarkan bagian ilmu tauhid dan bagian lainnya yang juga disampaikan oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga memiliki makna bahwa Sunan yang berarti susunan kalimat syahadat sedangkan Kalijaga berarti akalnya agar tidak lupa dan imannya harus dijaga.
Sebelum Islam masuk, masyarakat Jawa terlebih dahulu terpengaruh dengan ajaran Hindu Budha. Ajaran Hindu memproritaskan keindahan dunia, melestarikan adat dan kebudayaan alam semesta, sedangkan ajaran Budha memiliki makna yang membahas tentang tindak tanduk tingkah laku budi manusia yang harus luhur.

Sapi


Dalam ajaran Hindu, sapi dianggap sebagai hewan suci. Sapi dalam ajaran agama Hindu bermakna diresapi menuju perbuatan kecil yang suci. Setiap manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini harus bisa hidup bersosialisasi dalam masyarakat pada umumnya. Sebelum menjalani tingkah perilaku di tempat duniawi, setiap perbuatan jika ditemukan sebuah benturan kehidupan duniawi harus diyakini dan dimaknai serta diresapi dalam menuju akal pikiran yang sehat.
Sunan Kudus dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Kudus menggunakan ajaran Islam syari’at, karena penyebarannya sangat cepat dan mudah diterima oleh masyarakat. Adanya kepercayaan bahwa media sapi yang dianggap sebagai hewan suci oleh agama Hindu, membuat Sunan Kudus mempunyai keyakinan dan prinsip untuk menghargai sebuah keyakinan tersebut.
Sebelum menyebarkan ajaran agama Islam Sunan Kudus menghimbau agar masyarakat tidak menyembelih hewan sapi sebagai bentuk toleransi kepada agama Hindu. Menyembelih sapi boleh diyakini untuk titis regenerasi yang memiliki keyakinan agar tidak menyembelih hewan ternak untuk kelanjutannya. Tetapi diperbolehkan dalam menyembelih sapi itu bagi titis regenerasi yang memiliki keyakinan kepada Allah SWT.
Dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Kudus, Sunan Kudus menekankan nilai toleransi atau dikenal sebagai “tepo sliro” yaitu ajaran toleransi beragama. Sebagaimana agama Islam mengajarkan sebuah toleransi antar umat beragama dan antar etnis. Karena sebuah toleransi sangat penting agar untuk menghindari sebuah konflik antar agama dan konflik antar etnis dan ras.
Sebuah kesadaran akan pluralisme dapat berkembang di kalangan masyarakat untuk hidup rukun dan hidup saling berdampingan bersama meskipun berbeda etnis dan berbeda agama. Sikap toleransi dapat menimbulkan dasar semangat dalam menjalankan kehidupan sosial yang sesuai dengan ajaran Sunan Kudus, yaitu hidup yang toleran terhadap umat beragama lain. Ajaran toleransi yang berawal dari himbauan tidak menyembelih sapi oleh Sunan Kudus, dikarenakan adanya kultur Hindu yang mendominasi pada masa Islamisasi.
Pluralisme juga sebagai sunnatullah yang harus dijaga dan dipelihara. Contohnya seperti masyarakat Kudus dengan sosok Sunan Kudus menjadi salah satu simbol pluralisme yang tidak dapat dipisahkan sebab tatanan obyek menjadi fakta sosial. Jadi terbentuknya Islam yang mengerti arti toleran dan ramah mampu mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang paham dan sadar akan pentingnya kerukunan serta terbebas dari konflik yang berlatarbelakang agama.

(RI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *